Sepak bola kadang bukan lagi olahraga. Ia sudah menjelma seperti agama dadakan tiap akhir pekan. Stadion berubah jadi katedral beton, syal menjadi jubah kebanggaan, dan tribun terasa seperti tempat orang-orang melarikan diri dari kenyataan hidup yang cicilannya belum lunas.
Di situlah fanatisme picisan lahir. Fanatisme yang lucu, meledak-ledak, kadang romantis, kadang juga bikin dahi mengernyit sampai hampir ketemu ubun-ubun.
Ada orang yang rela kehujanan demi tim kesayangannya, padahal jemuran di rumah belum diangkat. Ada yang hafal formasi 4-3-3 lebih baik daripada hafalan perkalian anaknya sendiri. Bahkan ada yang bisa mendadak jadi filsuf ketika klubnya menang, lalu berubah jadi ahli konspirasi FIFA saat timnya kalah.
Sepak bola memang punya sihir. Satu gol di menit 90 bisa membuat orang dewasa melompat seperti mie instan yang direbus terlalu lama. Satu kartu merah bisa mengubah warung kopi menjadi sidang Mahkamah Konstitusi versi sandal jepit.
Di Indonesia, fanatisme sepak bola sering terasa seperti sinetron yang ditulis terlalu emosional. Rivalitas antarsuporter kadang lebih panas daripada knalpot motor yang baru naik tanjakan Garut. Di media sosial, orang bisa bertengkar tiga hari tiga malam hanya karena perdebatan: “siapa klub paling besar?” Padahal stadion bocor kalau hujan deras.
Budaya ultras sendiri lahir dari dukungan fanatik dan kolektif di tribun, lengkap dengan koreografi, nyanyian, flare, dan identitas kelompok yang kuat. Namun di tangan sebagian orang, cinta pada klub berubah jadi lomba siapa paling beringas. Ada yang merasa makin kasar berarti makin setia. Seolah-olah loyalitas harus diukur dari volume makian dan jumlah story Instagram saat tawuran.
Padahal sepak bola sejatinya cuma permainan sebelas orang mengejar bola kulit berisi angin. Ironisnya, manusia sering kehilangan kemanusiaannya hanya demi benda bundar yang kalau kena paku langsung kempes.
Fanatisme picisan biasanya punya pola yang sama.
Kalau tim menang: “Kami keluarga besar!”
Kalau kalah: pelatih disuruh pulang, pemain dibilang malas, wasit dituduh agen rahasia musuh, rumput stadion dianggap terlalu hijau, bahkan angin malam pun bisa ikut disalahkan.
Lucunya lagi, banyak suporter miskin yang membela klub kaya raya dengan militansi tingkat dewa. Mereka puasa beli kopi demi tiket pertandingan, sementara pemain idolanya baru saja membeli mobil seharga kompleks perumahan. Tapi begitulah cinta bekerja dalam sepak bola: logika duduk di bangku cadangan.
Di era media sosial, fanatisme makin tampil seperti konser tanpa panitia. Semua orang merasa jadi komentator, analis, sekaligus nabi taktik. Satu cuplikan pertandingan berdurasi 15 detik bisa memicu perang komentar sepanjang 300 balasan. Jempol berubah jadi pedang, emoji api dipakai seperti deklarasi perang.
Namun di balik segala keributan itu, sepak bola tetap punya sisi indah. Ia menyatukan tukang bakso dan pegawai kantor dalam satu teriakan gol. Ia membuat orang asing saling berpelukan tanpa bertanya suku atau rekening bank. Bahkan di tribun paling berisik sekalipun, ada rasa bahwa manusia sebenarnya hanya ingin punya sesuatu untuk dicintai bersama.
Mungkin itu sebabnya sepak bola tidak pernah benar-benar waras. Dan mungkin, kita memang menyukainya karena alasan itu.
Karena di dunia yang makin dingin, kadang manusia butuh satu tempat untuk berteriak sekeras mungkin… meski hanya demi bola yang ditendang ke kanan-kiri.