Di kota yang tiap sore langitnya terasa dicat ulang dengan warna biru, hiduplah seorang nahkoda bernama Bojan Hodak. Ia bukan sekadar pelatih. Ia seperti tukang tambal badai bagi kapal besar bernama Persib Bandung.

Ketika pertama datang, Bandung sedang berisik. Warung kopi penuh debat, timeline panas seperti knalpot motor menanjak di Lembang. Banyak yang berkata Persib sedang kehilangan arah. Bola diputar, tapi harapan sering nyasar ke tiang gawang.

Lalu datanglah Bojan. Wajahnya tenang seperti guru matematika yang tahu jawaban ujian bocor, tapi memilih diam. Ia berdiri di pinggir lapangan dengan ekspresi datar, seolah hujan kritik hanyalah gerimis yang numpang lewat di kaca helm.

Latihan di eranya berubah seperti dapur sate saat malam minggu: panas, ramai, dan penuh aroma perlawanan. Pemain berlari sampai rumput mungkin sempat berpikir, “Ini latihan atau sedang dikejar utang?”

Namun anehnya, di balik wajah dingin itu, Bojan seperti punya remote televisi tak terlihat. Saat permainan mulai kusut, ia menekan tombol “tenang.” Saat mental pemain turun, ia mengganti channel menjadi “percaya diri.”

Dan Bandung mulai berubah. Bobotoh yang biasanya emosinya naik turun seperti lift tua pasar tradisional, perlahan mulai tersenyum. Stadion kembali gaduh. Drum dipukul seperti genderang perang kerajaan Sunda. Bahkan tukang gorengan di dekat stadion ikut merasa taktik Persib lebih gurih dari bakwan panas.

Ada momen lucu saat Persib menang dramatis di menit akhir. Orang-orang memuji Bojan setinggi langit. Seorang Bobotoh bahkan berkata: “Kalau Bojan jadi tukang ojek, macet Bandung pun mungkin minggir sendiri.”

Hiperbola? Jelas. Tapi begitulah cinta suporter sepak bola. Kadang logika duduk di bangku cadangan.

Bojan juga unik. Ia bukan tipe pelatih yang melompat-lompat seperti komentator kuis dapat bonus motor. Saat tim menang besar, ekspresinya tetap seperti orang yang baru selesai bayar listrik tepat waktu. Tenang. Dingin. Stabil.

Justru itu yang membuatnya menarik. Ia seperti kopi pahit tanpa gula. Awalnya terasa keras, lama-lama bikin candu.

Di tangan Bojan, Persib bukan hanya tim sepak bola. Ia berubah jadi orkestra jalanan: kadang berisik, kadang ngawur, tapi ketika nadanya pas, seluruh kota ikut bernyanyi.

Dan setiap malam setelah kemenangan, Bandung terasa berbeda. Lampu kota seperti lebih terang, langit lebih ramah, dan suara “Persib Day!” melayang di udara seperti doa yang lupa pulang.

Sumber gambar: https://www.instagram.com/vivagoal/